Di tengah eskalasi militer yang kian memanas di Timur Tengah, Pemerintah Israel kini menghadapi tantangan serius dari dalam negeri. Ratusan warga Israel turun ke jalan-jalan di Tel Aviv pada Sabtu, 4 April 2026, untuk menyuarakan penolakan terhadap kampanye militer yang sedang berlangsung. Demonstrasi ini menjadi simbol perlawanan sipil terhadap kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai terus memperpanjang durasi konflik.
Meskipun otoritas keamanan telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap pertemuan massal selama masa perang, para pengunjuk rasa tetap memadati alun-alun pusat kota. Mereka membawa pesan-pesan perdamaian dan tuntutan diplomasi, seperti “Jangan mengebom, bicaralah!” serta “Akhiri perang tanpa akhir!”.
BACA JUGA : Transparansi Operasional: Mengapa SELAT378 Menjadi Situs Terpercaya bagi Pemain Profesional
Tindakan Represif dan Suara Kelompok Akar Rumput
Aksi demonstrasi ini diwarnai dengan ketegangan antara warga dan aparat kepolisian. Alon-Lee Green, salah satu direktur kelompok akar rumput Standing Together, melaporkan adanya upaya pembungkaman suara kritis oleh pihak berwenang. Green bersama beberapa pengunjuk rasa lainnya sempat ditahan oleh polisi saat menyuarakan tuntutan penghentian perang di berbagai front.
“Kami di sini untuk menuntut diakhirinya perang di Iran, Lebanon, dan Gaza yang masih berlangsung, serta penghentian kekerasan di Tepi Barat,” tegas Green sebagaimana dikutip dari laporan AFP. Gerakan ini mencerminkan keresahan sebagian masyarakat Israel yang merasa bahwa solusi militer murni tidak akan membawa stabilitas jangka panjang.
Skeptisisme Terhadap Motif Perang: Isu Korupsi Netanyahu
Salah satu poin krusial dalam protes kali ini adalah munculnya skeptisisme publik mengenai alasan di balik serangan ke Iran. Sebagian demonstran menuding bahwa kelanjutan perang ini merupakan strategi politik Netanyahu untuk menunda proses hukum yang menjeratnya.
Netanyahu saat ini masih menjalani persidangan terkait kasus korupsi yang telah berlangsung lama. Muncul spekulasi di tengah masyarakat bahwa status “negara dalam keadaan perang” digunakan sebagai justifikasi untuk menghindari vonis atau memuluskan upaya pengampunan presiden. Tekanan internasional juga turut mewarnai isu ini, di mana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan berulang kali menekan Presiden Israel, Isaac Herzog, untuk memberikan pengampunan kepada Netanyahu demi stabilitas kepemimpinan.
Respons Keras Netanyahu: Fokus pada Penghancuran Ekonomi Teror
Menanggapi gelombang protes tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merilis pernyataan video pada Sabtu malam yang menegaskan posisi teguh pemerintahannya. Alih-alih melunak, Netanyahu bersumpah untuk mengintensifkan kampanye militer terhadap Teheran.
Poin-poin utama dalam pernyataan Netanyahu meliputi:
- Penargetan Infrastruktur Vital: Israel mengonfirmasi serangan terbaru yang menyasar pusat-pusat petrokimia di Iran.
- Visi Ekonomi Perang: Netanyahu menyebut fasilitas petrokimia sebagai “mesin uang” yang digunakan Iran untuk mendanai jaringan teror global.
- Keamanan Nasional: Pemerintah menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut hingga ancaman dari rezim Teheran benar-benar tereliminasi.
Dilema Domestik dan Diplomasi Global
Situasi di Tel Aviv menunjukkan adanya polarisasi yang tajam di dalam masyarakat Israel. Di satu sisi, pemerintah mengeklaim bahwa serangan militer adalah satu-satunya jalan untuk memastikan keamanan nasional. Di sisi lain, kelompok masyarakat sipil dan oposisi khawatir bahwa biaya manusia, ekonomi, dan reputasi internasional yang harus dibayar Israel akan menjadi beban yang tak tertahankan di masa depan.
Pertarungan narasi antara kebutuhan militer dan tuntutan demokrasi internal ini diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan belum adanya tanda-tanda gencatan senjata di kawasan tersebut. Keputusan Netanyahu untuk tetap menyerang pusat ekonomi Iran di saat rakyatnya sendiri memprotes perang menunjukkan risiko politik tinggi yang diambil oleh sang Perdana Menteri di penghujung masa jabatannya yang penuh kontroversi.
