WASHINGTON D.C. — Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi menyatakan tidak memiliki rencana untuk melakukan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran. Pernyataan ini dikeluarkan guna meredam kekhawatiran pelaku pasar global di tengah eskalasi peperangan yang telah memicu lonjakan harga komoditas energi secara signifikan.
BACA JUGA : Posisi Dilematis Moskow: Rusia Konfirmasi Belum Ada Permintaan Bantuan Militer dari Iran
Komitmen Washington Terhadap Infrastruktur Energi
Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa meskipun perang terus berkecamuk, Washington memilih untuk menghindari target-target yang berkaitan dengan industri minyak dan gas alam Teheran. Wright menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak menargetkan industri minyak, gas alam, maupun aspek apa pun dari sektor energi Iran.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mencegah guncangan ekonomi lebih lanjut bagi pasar internasional yang saat ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan di wilayah Teluk.
Israel Targetkan Fasilitas Penyimpanan Minyak Lokal
Pernyataan dari pihak Washington muncul sesaat setelah Israel melancarkan serangan udara yang menghantam gudang penyimpanan minyak di sekitar Teheran pada Sabtu (7/3/2026). Serangan tersebut merupakan insiden pertama yang menyasar fasilitas energi sejak konflik pecah pada pekan lalu.
Menteri Energi AS memberikan beberapa poin klarifikasi terkait serangan tersebut:
- Pelaku Serangan: Wright menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan sepenuhnya oleh pihak Israel.
- Skala Kerusakan: Serangan dinilai bersifat terbatas karena hanya menargetkan depot bahan bakar lokal untuk pengisian kendaraan, bukan kilang pengolahan utama.
- Prediksi Gangguan: Dampak terhadap industri minyak dan gas diperkirakan tidak akan berlangsung lama, dengan estimasi gangguan maksimal hanya beberapa minggu, bukan berbulan-bulan.
Guncangan Pasar dan Penutupan Selat Hormuz
Konflik ini membawa dampak sistemik terhadap jalur distribusi energi strategis dunia. Penutupan Selat Hormuz yang hampir total telah memicu kepanikan pasar karena jalur ini merupakan perlintasan bagi hampir 20% minyak mentah dunia dan 20% gas alam cair (LNG).
Reaksi pasar terhadap krisis ini tercatat sangat ekstrem:
- Lonjakan Harga WTI: Patokan minyak Amerika Serikat naik 12% dalam satu hari pada Jumat (6/3/2026).
- Kenaikan Mingguan: Harga minyak mentah secara akumulatif melonjak hingga 36% hanya dalam waktu satu pekan.
Peran Strategis Produksi Minyak Iran
Meskipun berada di bawah sanksi internasional, Iran tetap memegang peran krusial dalam ketersediaan energi dunia dengan kontribusi sekitar 4% dari total produksi minyak global. Sebagian besar ekspor minyak Iran saat ini masih mengalir ke pasar internasional, khususnya menuju China, yang menjadikannya faktor penentu dalam stabilitas harga energi global.
