WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan keberhasilan operasi militer laut yang mengakibatkan tenggelamnya sembilan kapal perang utama milik Iran. Pernyataan ini menandai intensitas tertinggi dari kampanye militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel yang kini telah memasuki hari kedua, menyusul kegagalan total perundingan nuklir di Jenewa.
BACA JUGA : Daftar Game Online Indonesia Terbaik Sepanjang Masa
Klaim Penghancuran Markas Besar dan Armada Laut
Melalui kanal komunikasi resminya di platform Truth Social, Presiden Trump mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah meluncurkan serangan presisi yang melumpuhkan sebagian besar kekuatan laut Teheran.
“Sembilan kapal Angkatan Laut Iran telah dihancurkan dan ditenggelamkan, beberapa di antaranya adalah kapal berukuran besar dan memiliki nilai strategis penting,” tegas Trump. Ia juga menambahkan bahwa markas besar Angkatan Laut Iran saat ini dalam kondisi hancur sebagian besar akibat pemboman udara.
Dalam pernyataan yang sarat dengan retorika peringatan, Trump bersumpah akan melanjutkan perburuan terhadap sisa-sisa armada Iran. “Kami akan mengejar sisanya hingga mereka semua berakhir di dasar laut,” tulisnya, menegaskan komitmen Washington untuk melumpuhkan kemampuan tempur laut Iran secara permanen.
Laporan Teknis CENTCOM dan ‘Operation Epic Fury’
Komando Pusat AS (CENTCOM) memberikan rincian teknis mengenai jalannya operasi militer yang diberi sandi ‘Operation Epic Fury’. Salah satu pencapaian utama dalam operasi ini adalah penenggelaman korvet kelas Jamaran—salah satu kapal perang tercanggih milik Iran—di wilayah Teluk Oman.
Menurut rilis resmi CENTCOM:
- Target Strategis: Sejak operasi dimulai pada Sabtu (28/2/2026), militer AS telah menghantam lebih dari 1.000 target di seluruh wilayah Iran.
- Fasilitas Rudal: Pengebom siluman B-2 Spirit dikerahkan untuk menjatuhkan bom seberat 2.000 pon guna menghancurkan fasilitas rudal balistik Iran yang berada di bawah perlindungan bunker yang diperkeras.
- Struktur Komando: Markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi sasaran utama guna memutus rantai komando militer lawan.
Dampak Personel dan Seruan Menyerah
Selain kerugian material, Presiden Trump dalam wawancaranya dengan Fox News mengeklaim bahwa sedikitnya 48 pejabat senior Iran telah tewas dalam rangkaian serangan gabungan ini. Dampak psikologis dari operasi ini juga dimanfaatkan oleh CENTCOM dengan mengeluarkan seruan terbuka bagi personel angkatan bersenjata Iran, Garda Revolusi, dan kepolisian untuk segera meletakkan senjata guna menghindari kehancuran lebih lanjut.
Konteks Eskalasi Kawasan
Serangan ini merupakan puncak dari kebuntuan diplomasi yang terjadi selama berbulan-bulan. Dengan hancurnya sembilan kapal perang dan lumpuhnya sebagian besar infrastruktur maritim, kemampuan Iran untuk memblokade Selat Hormuz atau melakukan operasi asimetris di perairan internasional kini berada di titik terendah.
Hingga saat ini, Departemen Pertahanan AS terus menyiagakan aset tempurnya di kawasan Teluk, sementara dunia internasional mengkhawatirkan dampak kerusakan lingkungan akibat tenggelamnya kapal-kapal perang tersebut serta gangguan pada jalur logistik energi global.
