TEHERAN — Keamanan maritim di Selat Hormuz berada pada titik nadir setelah serangkaian serangan sistematis menargetkan kapal-kapal komersial dalam sepekan terakhir. Blokade yang dilakukan Iran sebagai respons atas konfrontasi militer dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah melumpuhkan jalur pelayaran strategis tersebut, memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dan keselamatan awak kapal internasional.
BACA JUGA : Stabilitas Pasar Global: AS Tegaskan Tidak Akan Menargetkan Sektor Energi Iran
Kronologi Serangan dan Korban Jiwa
Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sedikitnya sembilan hingga sepuluh insiden serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026. Intensitas serangan yang tinggi ini telah menelan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur laut yang signifikan:
- 2 Maret: Serangan terhadap kapal Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative mengakibatkan tiga orang tewas (satu korban di setiap kapal). Pada hari yang sama, kapal Hercules Star juga dilaporkan terkena hantaman.
- 3-5 Maret: Gelombang serangan berlanjut menyasar empat kapal lainnya, yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe.
- 6 Maret: Insiden paling fatal terjadi pada kapal Musaffah 2, yang dilaporkan menyebabkan empat orang tewas setelah dihantam dua rudal saat berupaya melakukan misi penyelamatan.
Laporan Mengenai Awak Kapal Warga Negara Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah memberikan pernyataan resmi terkait keterlibatan warga negara Indonesia (WNI) dalam tragedi kapal Musaffah 2. Meskipun terdapat perbedaan data korban antara laporan awal dan temuan lapangan, posisi terakhir menunjukkan kondisi sebagai berikut:
- 3 WNI: Dinyatakan hilang dalam insiden tersebut.
- 1 WNI: Berhasil selamat namun mengalami luka-luka.
- 4 Awak Lain: Berasal dari negara berbeda dinyatakan selamat.
Pihak berwenang Indonesia terus melakukan koordinasi dengan otoritas maritim internasional untuk memastikan status pencarian para korban yang hilang di wilayah perairan yang sangat berbahaya tersebut.
Kelumpuhan Arus Perdagangan Energi Global
Selat Hormuz merupakan arteri vital yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Namun, data dari platform pelacakan kapal MarineTraffic dan perusahaan analisis Kpler menunjukkan penurunan aktivitas yang drastis:
- Penurunan Volume: Lalu lintas kapal tanker merosot hingga 90 persen dalam sepekan terakhir.
- Statistik Pelintasan: Sejak Senin (2/3/2026), hanya sembilan kapal komersial yang terdeteksi melintasi selat tersebut.
- Taktik Navigasi: Sejumlah kapal dilaporkan menyembunyikan posisi radar secara berkala guna menghindari deteksi oleh pihak yang bertikai.
Target Terhadap Misi Penyelamatan
Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) menyoroti pola serangan baru yang sangat mengkhawatirkan, di mana kapal yang memberikan bantuan kemanusiaan atau operasi penyelamatan turut menjadi sasaran. Perusahaan keamanan maritim Vanguard mencatat bahwa Musaffah 2 dihantam rudal justru saat mencoba membantu kapal kontainer Safeen Prestige. Strategi ini dianggap sebagai upaya sengaja untuk menciptakan ketidakpastian total dan ketakutan di sepanjang jalur pelayaran internasional.
Kondisi ini memaksa banyak perusahaan pelayaran global untuk menghentikan sementara operasional mereka di kawasan Teluk atau mencari rute alternatif yang jauh lebih mahal, yang diprediksi akan berdampak pada lonjakan inflasi energi di tingkat global.
