Keputusan Teheran untuk menolak proposal damai 15 poin yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi sinyal kuat mengenai peningkatan kepercayaan diri rezim Iran di tengah kecamuk perang yang telah berlangsung selama empat pekan. Meskipun infiltrasi udara gabungan AS dan Israel telah menyebabkan kerugian material yang signifikan, para analis internasional mencatat bahwa struktur pemerintahan dan komando militer Iran tetap menunjukkan stabilitas yang solid.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari AFP pada Kamis, 26 Maret 2026, berikut adalah empat alasan fundamental mengapa Iran dinilai sedang berada di atas angin dalam peta negosiasi saat ini:
1. Ketahanan Infrastruktur Militer dan Pemerintahan
Meskipun menjadi target serangan udara intensif, Iran terbukti masih memiliki kapasitas operasional untuk meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah Israel serta negara-negara tetangga. Kemampuan untuk tetap melakukan ofensif di tengah tekanan udara menunjukkan bahwa sistem pertahanan dan logistik militer mereka belum sepenuhnya lumpuh. Stabilitas pemerintahan di Teheran juga menjadi indikator bahwa tekanan eksternal belum berhasil memicu keretakan internal yang diharapkan oleh koalisi Barat.
2. Kendali Strategis atas Jalur Energi Dunia
Kontrol efektif Iran terhadap Selat Hormuz tetap menjadi “kartu as” yang paling mematikan dalam diplomasi energi global. Sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas bumi dunia, gangguan sekecil apa pun di selat ini langsung memicu lonjakan harga komoditas energi secara global. Posisi ini memberikan daya tawar asimetris bagi Iran; mereka mampu menciptakan guncangan ekonomi global yang dapat memberikan tekanan politik domestik bagi pemerintahan Trump di Washington.
3. Skeptisitas terhadap Diplomasi “15 Poin” Trump
Sikap Iran yang cenderung mengejek upaya diplomasi Donald Trump menunjukkan bahwa Teheran tidak merasa terdesak secara waktu. Pernyataan Presiden Trump mengenai adanya pembicaraan rahasia langsung dibantah oleh pejabat Iran dengan menyebut Trump sedang “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa membicarakan negosiasi di saat perang sedang memuncak dianggap sebagai pengakuan kekalahan. Iran tampak lebih memilih berkomunikasi melalui perantara pihak ketiga dibandingkan memberikan pengakuan diplomatik langsung kepada Washington.
4. Kegagalan Tekanan Maksimum dan Faktor Kepercayaan
Peneliti senior dari Middle East Institute, Ross Harrison, menilai bahwa ketidakpercayaan yang mendalam terhadap komitmen Donald Trump menjadi faktor kunci di balik sikap skeptis Iran. Teheran memandang proposal Washington bukan sebagai dasar perdamaian yang adil, melainkan instrumen penyerahan diri. Dengan posisi militer yang masih mampu memberikan perlawanan, para pemimpin Iran merasa memiliki ruang gerak untuk menunggu hingga posisi tawar mereka mencapai titik maksimal sebelum benar-benar duduk di meja perundingan.
