Laporan tahunan terbaru bertajuk “The State of Southeast Asia 2026” yang dirilis oleh ISEAS – Yusof Ishak Institute mengungkap terjadinya pergeseran fundamental dalam persepsi elit kawasan ASEAN terhadap dinamika kekuatan global. Untuk pertama kalinya sejak survei ini dilakukan, ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan Amerika Serikat melampaui isu-isu regional lainnya, menandai era baru di mana pengaruh Washington mulai terpinggirkan oleh dominasi nyata Beijing.
Kekhawatiran terhadap peran global Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melonjak hingga menjadi ancaman geopolitik nomor satu dengan persentase 51,9 persen. Angka ini bukan sekadar data statistik, melainkan refleksi dari memudarnya kepercayaan terhadap stabilitas tatanan internasional yang selama ini dipandu oleh Gedung Putih.
BACA JUGA : Keputusasaan Strategis: Analisis di Balik Blokade Selat Hormuz oleh Donald Trump
Krisis Kepercayaan terhadap Washington
Sentimen negatif terhadap Amerika Serikat sangat terasa di negara-negara kunci ASEAN. Profil responden yang terdiri dari pembuat kebijakan, akademisi, dan pemimpin opini memberikan gambaran kecemasan yang mendalam:
- Singapura: Mencatatkan tingkat kekhawatiran tertinggi sebesar 76,8 persen.
- Indonesia: Angka kecemasan menyentuh 67,8 persen.
Akar dari keraguan ini berasal dari kebijakan luar negeri “Trump 2.0” yang dinilai terlalu transaksional, kecenderungan proteksionisme perdagangan yang agresif, serta ketidakpastian komitmen keamanan di kawasan. Elit Asia Tenggara tampaknya mengalami trauma terhadap pola diplomasi yang sulit diprediksi, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk mencari alternatif mitra strategis yang lebih stabil.
Dominasi China dan Reorientasi Pragmatisme
Di saat Amerika Serikat dianggap mulai menarik diri secara strategis, China berhasil mengisi kekosongan tersebut dengan memposisikan diri sebagai mitra pembangunan yang konkret. Laporan ISEAS menunjukkan bahwa pragmatisme ekonomi kini menjadi kompas utama kebijakan luar negeri negara-negara ASEAN, mengalahkan nilai-nilai demokrasi atau kebebasan politik yang selama ini dipromosikan oleh Barat.
Berdasarkan temuan laporan tersebut:
- Pengaruh Ekonomi: Sebanyak 55,9 persen responden menempatkan China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh di Asia Tenggara.
- Skenario “Pilihan Paksa”: Dalam skenario di mana kawasan dipaksa memilih antara Washington atau Beijing, China kini menjadi pilihan utama. Di Indonesia, dukungan terhadap China dalam skenario ini melonjak drastis hingga 80,1 persen.
Keberhasilan Beijing terletak pada kehadirannya secara fisik melalui proyek infrastruktur raksasa dan integrasi rantai pasok yang erat. China dianggap menawarkan kepastian kerja sama ekonomi saat komitmen ekonomi Amerika Serikat dinilai abstrak dan penuh syarat politik.
Tekanan Ganda: Keamanan Tradisional dan Non-Tradisional
Pergeseran dukungan ini terjadi di tengah kompleksitas ancaman yang semakin beragam. Selain rivalitas kekuatan besar, elit ASEAN kini menghadapi tekanan dari isu keamanan non-tradisional yang menempati urutan teratas daftar ancaman regional, antara lain:
- Krisis perubahan iklim yang mulai berdampak pada ketahanan pangan.
- Operasi sindikat penipuan daring (scam global) yang mengancam stabilitas sosial-ekonomi.
Kondisi ini memaksa negara-negara ASEAN untuk bertindak sangat pragmatis. Mereka membutuhkan mitra yang dapat memberikan solusi langsung terhadap krisis domestik, dan saat ini China dinilai lebih mampu memenuhi ekspektasi tersebut dibandingkan Amerika Serikat.
Kewaspadaan di Tengah Ketergantungan
Meskipun China memenangkan persepsi ekonomi dan strategi jangka pendek, laporan ISEAS juga mencatat bahwa reorientasi ini tidak terjadi secara buta. Kawasan tetap menaruh kewaspadaan tinggi terhadap perilaku asertif China di wilayah Laut China Selatan.
Ketegangan di perairan tersebut tetap menjadi ganjalan utama yang membuat ASEAN melakukan strategi “lindung nilai” (hedging). Namun, dengan kondisi politik domestik Amerika Serikat yang dianggap semakin tidak stabil, Asia Tenggara tampaknya mulai menerima realitas bahwa masa depan kawasan ini akan lebih banyak ditentukan oleh hubungan mereka dengan Beijing daripada dengan Washington. Kesimpulannya, Amerika Serikat kini bukan lagi “jangkar utama” yang tak tergantikan di Asia Tenggara.
